Suara meriam membuncah di kepala, isyaratkan bahwasanya hati terluka. Ingin sekali menjerit sekuatnya, keluarkan amarah yang menyesakkan dada

Amarah hanya hasilkan derita, mengumpat sampai bersilat lidah menjadi senjata, memperkeruh suasana menyalahkan dunia

Bagaimana tidak di dera amarah, jika keadilan semakin tidak nyata?

Bahkan berat dosa bukan di pundak kanan, menimbang keadilan dari sisi kehidupan bukan pilihan, langkah kaki pun tidak dapat bersamaan, sampai akhirpun adil itu hanya angan-angan

Tak mampu kubiarkan adil pergi beterbangan, hanyalah adil yang aku butuhkan. Sampai habis batas kesabaran, adil akan tetap aku harapkan!

Adil di dunia sangat jauh dari harapan,mungkin memendam lebih melegakan, karena adil berupa kesempurnaan, hanyalah tuhan yang punya jawaban

Jikalau memendam lebih melegakan, mengapa aku semakin tertekan?

Tak akan habis tekanan jika bertarung amarah dengan keadilan, mencintai amarah lewat pikiran akan lebih menyesatkan,cintailah amarah lewat hati yang melegakan

Sabarku tak akan ada penghabisan. Amarah mampu aku tenggelamkan jikalau senja sekarang tuhan hadirkan. Karena hanya senja yang sanggup buatku tenang.

Senja sudah pasti datang, senja sudah pasti menenangkan. apakah setelah senja menghilang, amarah akan kembali dan menantang..

Kan kubuktikan senja melegakan. Amarah membara akan segera hilang, seiring bias cahaya senja yang menghangatkan.

Aku percaya kekuatan senja dapat meluluh lantahkan amarah.. Terlebih senja itu diiringi keikhlasan senyuman.

-NB-

View on Path

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s