hujan di ufuk timur

Ia beranjak dari peraduan saat kulitnya ditusuk dingin
jendela menyeruak di terjang angin
desah desah hujan berteriak merdu seperti ingin

Ia berjalan sembari berimajinasi; kalaulah aku sudah bersuami, barang tentu sudah kusiapkan kopi
nyatanya aku masih sendiri
di ufuk timur pun aku terasa sepi

Ia berjalan lagi, sudah dulu berimajinasi
baiknya nikmati desah hujan kembali
sembari terbaring di rangkuman pagi

tidur lagi.

•gubahan N•
#pathdaily

View on Path

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s